Senin, 16 Maret 2009
puasa
Konsumtivisme di bulan Ramadhan ?
Di bulan Ramadhan ini seharusnya kita bisa berhemat banyak dalam membelanjakan keuangan kita. Namun justru sebaliknya kebanyakan kita di bulan Ramdahan ini harus mengeluarkan pengeluaran extra dalam menjalaninya. Bagaimana ini bisa terjadi ?
Hakekat Ibadah Puasa
Melaksanakan ibadah puasa dalam agama Islam merupakan suatu proses pembelajaran dalam hal pengendalian diri. Pembelajaran dalam pengendalian diri ini merupakan suatu pembelajaran yang benar-benar nyata yang langsung dipraktekkan, tidak hanya diajarkan dalam teori, seminar, pelatihan, dsb. Ibadah puasa dalam ajaran Islam tidak identik dengan sebuah pelarian diri dari kenyataan hidup di dunia yang seharusnya dihadapi. Dalam agama-agama lain bisa jadi puasa merupakan pelarian dari dunia nyata, seperti mengurung diri bertemu dengan orang lain, menyepi kesuatu tempat terpencil, menyiksa diri dengan cara tidak makan, dst yang akhirnya menghasilkan orang-orang yang mengabaikan realitas kehidupan atau lari dari tanggung jawab pribadi maupun tanggung jawab sosialnya, tanpa melakukan suatu perjuangan sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifatul fil ardhi).
Tujuan puasa yang sesungguhnya adalah taqwa (QS. Albaqoroh 183), namun pengaruh puasa dalam menghadapi hidup di dunia ini salah satunya adalah menahan diri dalam arti luas. Menahan diri dari nafsu yang berlebihan dan tidak terkendali atau nafsu yang tidak seimbang. Keseimbangan akan baik jika diletakkan dalam porsi yang sebenarnya. Namun jika diletakkan dalam porsi yang tidak benar maka akan mengakibatkan dan berakhir pada kegagalan.
Penomena di Bulan Ramadhan
Berikut adalah pemandangan yang sering terjadi di saat bulan Ramadhan tiba. Pusat perbelanjaan ataupun pasar-pasar diserbu pengunjung untuk membeli keperluan sehari-hari. Anggaran belanja sehari-hari menjadi lebih besar dibandingkan hari-hari biasa. Makanan bertumpuk. Makanan yang tidak pernah ataupun jarang dimakan di bulan lain akan ada di bulan Ramadhan ini.
Penomena di atas mungkin sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Padahal jika diukur secara logika sebenarnya pada saat menjalankan ibadah puasa, sebenarnya kita hanya makan 2 kali sehari, yaitu saat sahur dan berbuka, berbeda dengan bulan-bulan lainnya yang bisa mencapai 3 kali sehari dan bahkan lebih, namun mengapa hal itu dapat terjadi. Dalam arti konsumsi yang terjadi pada saat bulan Ramadhan melebihi anggaran yang biasa terjadi pada bulan di luar Ramadhan.
Keinginan untuk berbelanja secara berlebihan yang terjadi selama ini pada saat bulan Ramadhan tiba terutama makanan dan menjelang hari raya biasanya pakaian, bisa jadi hal yang lazim terjadi. Pun kalau ditanyapun jawabannya “..ya paling setahun sekali.”. Namun sebenarnya bukan esensi hal seperti itu yang ingin didapat dari peralihan bulan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Jika hal tersebut terjadi terus menerus setiap Ramadhan tiba, maka perlu dipertanyakan, apakah sebenarnya kita telah meraih makna ibadah puasa itu sendiri. Jangan-jangan kita termasuk orang yang hanya dapat lapar dan haus saja dalam berpuasa seperti yang dikatakan Nabi dalam haditsnya. Bukankan sudah dikemukakan bahwa salah satu pengaruh dari ibadah puasa adalah menahan diri, termasuk menahan diri dari sifat yang konsumtif.
Konsumtivisme
Adanya keinginan yang tidak terkendali untuk berbelanja, merupakan dorongan (keinginan.nafsu) fisik dan bathin yang secara berlebihan menghasilkan sesuatu yang pada akhirnya menutup jalan pikiran atau lebih tepat lagi kejernihan hati dan pikiran selaku manusia. Dengan ditutupnya hal tersebut menjadikan kita buta, tidak peka, tidak mampu membaca kondisi. Ia menjadi buta dan tuli, karena kebenaran adalah apabila ia mengikuti nafsunya semata. Padahal sebenarnya jika kita sudah berbuka, maka dengan seteguk air saja, maka keinginan kita yang tadi menggebu-gebu untuk menyantap seluruh makanan yang tersaji bukankah sudah sirna terhanyut bersama air ke dalam kerongkongan kita.
Perilaku konsumtif masih dapat dikatakan dalam taraf yang belum membahayakan jika masih dalam batas menggunakan dana sendiri. Namun jika menggunakan dana dari luar, misalnya pinjam ke pihak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, maka hal tersebut dapat menjurus ke tingkat yang membahayakan. Sangat berbahaya sekali jika misalnya saja, uang tabungan yang telah disimpan secara susah payah bertahun-tahun harus lenyap dalam jangka waktu sekejap. Uang THR ataupun bonus hari raya habis sekejap hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.
Harus dibedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan suatu hal yang mendasar yang harus dipenuhi. Sedangkan keinginan biasanya hanya timbul sesaat dan tidak harus dipenuhi. Kebutuhan seperti misalnya makan nasi. Harus dipenuhi, jika tidak akan dapat membahayakan jiwa, namun keinginan seperti ingin makan yang berlebihan, coba mulaillah ditekan, nanti lama kelamaan juga akan hilang dengan sendirinya.
Kita informasi kredit konsumsi cenderung naik di bulan Ramadhan ini, pegadaian dipenuhi orang yang membutuhkan uang tunai, pusat perbelanjaan dan pasar penuh sesak. Semuanya hanya ada satu tujuan yaitu akan memuaskan keinginannya.
Menurut informasi kita merupakan negara konsumerrisme terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat didunia, kita merupakan pasar yang potensial bagi produsen asing. Akakah kesan tersebut tetap membekas ssat bulan ramadahan. Kesan konsumerisme pada saat bulan ramadhan ini sudah seharusnya kita tinggalkan. Kita bertekad bahwa hal tersebut harus sudah kita tinggalkan sehingga setelah kita tinggalkan bulan ramadhan ini maka kita benr-benar .kembali firah, hidup secukupnya tidak berlebih-lebihan. Seperti dalam surat al isra Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Oleh sebab itu mungkin Ramadhan 1429 H ini merupakan momentum awal bagi kita untuk mulai menahan diri dalam arti tidak terlalu berlebihan jika kita menahan sedikit keinginan kita untuk lebih konsumtif, sehingga makna puasa dapat kita raih.
Di bulan Ramadhan ini seharusnya kita bisa berhemat banyak dalam membelanjakan keuangan kita. Namun justru sebaliknya kebanyakan kita di bulan Ramdahan ini harus mengeluarkan pengeluaran extra dalam menjalaninya. Bagaimana ini bisa terjadi ?
Hakekat Ibadah Puasa
Melaksanakan ibadah puasa dalam agama Islam merupakan suatu proses pembelajaran dalam hal pengendalian diri. Pembelajaran dalam pengendalian diri ini merupakan suatu pembelajaran yang benar-benar nyata yang langsung dipraktekkan, tidak hanya diajarkan dalam teori, seminar, pelatihan, dsb. Ibadah puasa dalam ajaran Islam tidak identik dengan sebuah pelarian diri dari kenyataan hidup di dunia yang seharusnya dihadapi. Dalam agama-agama lain bisa jadi puasa merupakan pelarian dari dunia nyata, seperti mengurung diri bertemu dengan orang lain, menyepi kesuatu tempat terpencil, menyiksa diri dengan cara tidak makan, dst yang akhirnya menghasilkan orang-orang yang mengabaikan realitas kehidupan atau lari dari tanggung jawab pribadi maupun tanggung jawab sosialnya, tanpa melakukan suatu perjuangan sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifatul fil ardhi).
Tujuan puasa yang sesungguhnya adalah taqwa (QS. Albaqoroh 183), namun pengaruh puasa dalam menghadapi hidup di dunia ini salah satunya adalah menahan diri dalam arti luas. Menahan diri dari nafsu yang berlebihan dan tidak terkendali atau nafsu yang tidak seimbang. Keseimbangan akan baik jika diletakkan dalam porsi yang sebenarnya. Namun jika diletakkan dalam porsi yang tidak benar maka akan mengakibatkan dan berakhir pada kegagalan.
Penomena di Bulan Ramadhan
Berikut adalah pemandangan yang sering terjadi di saat bulan Ramadhan tiba. Pusat perbelanjaan ataupun pasar-pasar diserbu pengunjung untuk membeli keperluan sehari-hari. Anggaran belanja sehari-hari menjadi lebih besar dibandingkan hari-hari biasa. Makanan bertumpuk. Makanan yang tidak pernah ataupun jarang dimakan di bulan lain akan ada di bulan Ramadhan ini.
Penomena di atas mungkin sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Padahal jika diukur secara logika sebenarnya pada saat menjalankan ibadah puasa, sebenarnya kita hanya makan 2 kali sehari, yaitu saat sahur dan berbuka, berbeda dengan bulan-bulan lainnya yang bisa mencapai 3 kali sehari dan bahkan lebih, namun mengapa hal itu dapat terjadi. Dalam arti konsumsi yang terjadi pada saat bulan Ramadhan melebihi anggaran yang biasa terjadi pada bulan di luar Ramadhan.
Keinginan untuk berbelanja secara berlebihan yang terjadi selama ini pada saat bulan Ramadhan tiba terutama makanan dan menjelang hari raya biasanya pakaian, bisa jadi hal yang lazim terjadi. Pun kalau ditanyapun jawabannya “..ya paling setahun sekali.”. Namun sebenarnya bukan esensi hal seperti itu yang ingin didapat dari peralihan bulan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Jika hal tersebut terjadi terus menerus setiap Ramadhan tiba, maka perlu dipertanyakan, apakah sebenarnya kita telah meraih makna ibadah puasa itu sendiri. Jangan-jangan kita termasuk orang yang hanya dapat lapar dan haus saja dalam berpuasa seperti yang dikatakan Nabi dalam haditsnya. Bukankan sudah dikemukakan bahwa salah satu pengaruh dari ibadah puasa adalah menahan diri, termasuk menahan diri dari sifat yang konsumtif.
Konsumtivisme
Adanya keinginan yang tidak terkendali untuk berbelanja, merupakan dorongan (keinginan.nafsu) fisik dan bathin yang secara berlebihan menghasilkan sesuatu yang pada akhirnya menutup jalan pikiran atau lebih tepat lagi kejernihan hati dan pikiran selaku manusia. Dengan ditutupnya hal tersebut menjadikan kita buta, tidak peka, tidak mampu membaca kondisi. Ia menjadi buta dan tuli, karena kebenaran adalah apabila ia mengikuti nafsunya semata. Padahal sebenarnya jika kita sudah berbuka, maka dengan seteguk air saja, maka keinginan kita yang tadi menggebu-gebu untuk menyantap seluruh makanan yang tersaji bukankah sudah sirna terhanyut bersama air ke dalam kerongkongan kita.
Perilaku konsumtif masih dapat dikatakan dalam taraf yang belum membahayakan jika masih dalam batas menggunakan dana sendiri. Namun jika menggunakan dana dari luar, misalnya pinjam ke pihak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, maka hal tersebut dapat menjurus ke tingkat yang membahayakan. Sangat berbahaya sekali jika misalnya saja, uang tabungan yang telah disimpan secara susah payah bertahun-tahun harus lenyap dalam jangka waktu sekejap. Uang THR ataupun bonus hari raya habis sekejap hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.
Harus dibedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan suatu hal yang mendasar yang harus dipenuhi. Sedangkan keinginan biasanya hanya timbul sesaat dan tidak harus dipenuhi. Kebutuhan seperti misalnya makan nasi. Harus dipenuhi, jika tidak akan dapat membahayakan jiwa, namun keinginan seperti ingin makan yang berlebihan, coba mulaillah ditekan, nanti lama kelamaan juga akan hilang dengan sendirinya.
Kita informasi kredit konsumsi cenderung naik di bulan Ramadhan ini, pegadaian dipenuhi orang yang membutuhkan uang tunai, pusat perbelanjaan dan pasar penuh sesak. Semuanya hanya ada satu tujuan yaitu akan memuaskan keinginannya.
Menurut informasi kita merupakan negara konsumerrisme terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat didunia, kita merupakan pasar yang potensial bagi produsen asing. Akakah kesan tersebut tetap membekas ssat bulan ramadahan. Kesan konsumerisme pada saat bulan ramadhan ini sudah seharusnya kita tinggalkan. Kita bertekad bahwa hal tersebut harus sudah kita tinggalkan sehingga setelah kita tinggalkan bulan ramadhan ini maka kita benr-benar .kembali firah, hidup secukupnya tidak berlebih-lebihan. Seperti dalam surat al isra Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Oleh sebab itu mungkin Ramadhan 1429 H ini merupakan momentum awal bagi kita untuk mulai menahan diri dalam arti tidak terlalu berlebihan jika kita menahan sedikit keinginan kita untuk lebih konsumtif, sehingga makna puasa dapat kita raih.
Langganan:
Postingan (Atom)
